
Transisi dari prompt engineering ke agent framework sedang menjadi perubahan besar dalam dunia pengembangan aplikasi GenAI. Dulu, membangun aplikasi berbasis AI cukup dengan memberikan satu prompt yang dirancang cermat. Tapi sekarang, pendekatan itu mulai terasa terbatas, terutama ketika berhadapan dengan skenario kerja nyata yang membutuhkan tahapan, memori, dan tindakan lanjutan. Inilah yang mendorong banyak developer mulai meninggalkan pendekatan prompt tradisional dan beralih ke framework yang lebih agentik.
Ketika ChatGPT dan LLM lain mulai populer, prompt engineering menjadi cara tercepat dan termudah untuk membuat aplikasi AI. Cukup dengan satu instruksi — misalnya, “Buatkan ringkasan artikel ini dalam 100 kata” — AI bisa langsung memberi hasil.
Developer mulai bereksperimen dengan berbagai teknik:
Namun, seiring bertambahnya kompleksitas task, pendekatan ini mulai menunjukkan keterbatasannya. Prompt hanya bisa menjalankan satu perintah pada satu waktu. Tidak ada memori jangka panjang, tidak ada perencanaan, dan tidak ada cara untuk menyelesaikan task yang terdiri dari beberapa langkah.
Dalam kenyataannya, banyak tugas tidak bisa diselesaikan dengan satu prompt. Ambil contoh task seperti ini:
“Baca file PDF, buat ringkasan isi utamanya, konfirmasi dengan pengguna, lalu kirimkan follow-up email berisi poin-poin penting, dan simpan hasilnya ke sistem.”
Tugas ini membutuhkan lebih dari sekadar perintah satu kalimat. Ada proses bertahap:
Masing-masing langkah membutuhkan pemrosesan terpisah, dan tidak bisa disatukan dalam satu prompt. Di sinilah developer mulai merasa bahwa pendekatan prompt tidak lagi memadai.
agent framework muncul sebagai jawaban untuk tantangan ini. Dalam pendekatan ini, AI tidak hanya menjadi responden pasif terhadap satu prompt, tapi bertindak layaknya agen yang memiliki:
Misalnya, jika agent diberi perintah: “Ambil 5 klien potensial dari spreadsheet dan kirimkan email follow-up ke masing-masing”, maka agent akan:
Semua ini dilakukan dalam satu workflow, dengan pemantauan setiap langkah dan kemungkinan koreksi bila terjadi error. Prompt tidak akan sanggup menangani alur sekompleks ini sendirian.
Ada beberapa alasan kuat kenapa developer kini mulai beralih dari prompt ke agent framework:
Banyak use case di bidang legal, customer service, manajemen dokumen, atau operation support mulai menerapkan pendekatan agentik karena AI tidak cukup hanya “menjawab pertanyaan”, tetapi harus bisa mengerjakan sesuatu secara aktif.
Penting untuk dicatat bahwa agent framework bukan berarti prompt engineering tidak lagi berguna. Justru, prompt tetap menjadi komponen penting dalam setiap langkah yang dilakukan oleh agent. Bedanya, sekarang prompt digunakan sebagai bagian dari proses yang lebih besar dan terstruktur.
Prompt adalah batu loncatan. Agent adalah jembatan penuh yang menghubungkan satu titik ke titik lainnya, melewati rintangan-rintangan dalam alur kerja nyata.
Jika masih terpaku pada prompt engineering dan mulai merasa buntu karena task semakin kompleks dan tak bisa diselesaikan dalam satu langkah, mungkin ini saatnya mengeksplorasi pendekatan agent framework. Bukan sekadar mengganti cara kerja, tapi memperluas pandangan tentang apa yang bisa dicapai dengan AI hari ini.