
Istilah Agentic AI semakin sering muncul dalam diskusi tentang masa depan kecerdasan buatan. Namun, di balik popularitasnya, konsep ini kerap disalahartikan; Agentic AI dianggap hanya sebagai Generative AI yang lebih canggih atau sekadar istilah baru untuk automasi.
Padahal, Agentic AI merepresentasikan pergeseran paradigma dalam cara sistem AI dirancang dan digunakan: dari AI sebagai komponen pasif dalam pipeline, menjadi AI sebagai aktor yang mampu berpikir, merencanakan, dan bertindak untuk mencapai tujuan.
Artikel ini membahas Agentic AI secara utuh, dimulai dari definisinya, lalu masuk ke perubahan arsitektur yang mendasarinya, hingga mengapa pendekatan model-native menjadi fondasi utama sistem agentic.
Agentic AI adalah sistem AI yang bersifat otonom, goal-oriented, dan mampu merencanakan serta mengeksekusi serangkaian tindakan secara mandiri untuk mencapai tujuan tersebut.
Berbeda dengan AI tradisional atau Generative AI yang umumnya:
Agentic AI bekerja dalam loop keputusan yang berkelanjutan. Ia tidak hanya “menjawab”, tetapi menentukan apa yang perlu dilakukan berikutnya berdasarkan konteks dan hasil sebelumnya.
Ciri utama Agentic AI antara lain:
Singkatnya:
Generative AI membantu manusia berpikir. Agentic AI membantu manusia menyelesaikan pekerjaan.
Banyak organisasi mulai merasa bahwa pendekatan AI berbasis prompt dan workflow statis memiliki batas. Semakin kompleks sebuah proses bisnis atau sistem digital, semakin sulit mengandalkan:
Di sinilah Agentic AI menjadi relevan. Untuk memahami mengapa pendekatan ini berbeda secara fundamental, kita perlu melihat bagaimana sistem AI sebelumnya dibangun sebelum masuk ke diskusi tentang pipeline.
Sebagian besar sistem AI saat ini masih dibangun menggunakan pendekatan pipeline.
Secara sederhana:
Pendekatan ini bekerja dengan baik untuk:
Namun, pipeline memiliki keterbatasan mendasar:
Dalam dunia nyata yang dinamis, pipeline sering kali menjadi bottleneck.
Agentic AI muncul ketika kita berhenti memperlakukan model AI sebagai salah satu komponen, dan mulai menjadikannya pusat pengambilan keputusan.
Pendekatan ini sering disebut sebagai model-native.
Dalam arsitektur model-native:
Model tidak lagi “menunggu perintah”, melainkan menginisiasi tindakan berdasarkan pemahamannya terhadap situasi.
| Aspek | Pipeline AI | Model-Native Agentic AI |
| Struktur | Linier | Loop keputusan |
| Kontrol | Di luar model | Di dalam model |
| Adaptasi | Terbatas | Tinggi |
| Peran AI | Tool | Agent |
Inilah pergeseran fundamental:
dari AI sebagai alat, menjadi AI sebagai aktor.
Sebagian besar sistem Agentic AI beroperasi dalam siklus berikut:
Loop ini berjalan terus-menerus, memungkinkan sistem:
Agentic AI bukan sekadar peningkatan teknis. Ia mengubah cara kita mendelegasikan tanggung jawab ke mesin.
Pada sistem lama:
Pada sistem agentic:
Ini adalah bentuk delegasi kognitif, bukan sekadar automasi.
Karena itu, Agentic AI sering menjadi fondasi bagi:
Semakin otonom sebuah sistem, semakin besar tanggung jawab desainnya.
Beberapa tantangan utama Agentic AI:
Karena itu, Agentic AI tidak bisa dilepaskan dari diskusi tentang risk, governance, dan kontrol.
Agentic AI menandai transisi penting dalam evolusi kecerdasan buatan:
Bukan berarti semua sistem harus agentic. Namun, untuk masalah yang kompleks, dinamis, dan lintas domain, pendekatan ini menawarkan cara berpikir yang lebih selaras dengan realitas dunia nyata.
Agentic AI bukan sekadar tren, ia adalah fondasi arsitektural untuk generasi berikutnya dari sistem AI.
Bacaan Lanjutan